Jumat, 29 Mei 2020

Perpustakaan bapak 2


The administrative process oleh Stephen P. Robbins, 494 halaman, bahasa Inggris, hard cover berbungkus plastik.


Methods in social research oleh Richard T. LaPiere, 386 halaman, hard cover.


The management of organization oleh Herbert G. Hicks dan C. Ray Gullet, 602 halaman, soft cover berbungkus plastik.

Perpustakaan bapak 1

Bukunya bapak buanyaaaakkkkk...... banget. Bapak mmg suka baca. Beliau jg dosen yg suka belajar. Skrg buku2 ini bengong. Aku sendiri ga mudeng baca buku2nya bapak. Banyak yg ga sesuai bidangku.
Hari ini aku coba foto dan posting 3 buku dulu. Moga2 istiqomah foto dan posting buku2 bapak.


Dimensions of organizational behavior oleh Theodore T. Herbert, 530 halaman, bahasa Inggris, soft cover bersampul plastik.



Research methods and analysis: searching for relationship oleh Michael H. Walizer dan Paul L. Wienir, 516 halaman, bahasa Inggris, soft cover bersampul plastik.


The  process of management oleh William H. Newman dan E. Kirby Warren, 670 halaman, hard cover bersampul plastik.


Senin, 11 Mei 2020

curhatan ibu2 bakal ABG

barusan baca curhatan di WAG grup emak2 walmur.
memang nonikku masih umur 10 tahun. tapi beberapa ibu-ibu ada yang sudah punya anak ABG.

berawal dari curhatan salah satu ibu temennya si nonik, sebut saja budi. si budi punya kakak, sebut aja wati. nah, wati sudah berumur 12 tahun. sudah ABG. si ibu curhat betapa sekarang semakin sulit berkomunikasi dengan wati. bahwa wati sering tidak mematuhi kata2 ibunya (ga jelas sih, sekedar gak patuh ato karena dia agak lelet trus dibilang ga patuh).

pembahasan berkembang menjadi diskusi dan saling sharing emak2 lainnya tentang kengeyelan dan keleletan anak masing2.
aku tak berkomentar dan tak bersuara.
secara.... anak tertuaku sama dengan anak kedua ato bahkan anak terakhir dari mereka2 yang bersuara.

tapi....
ttg kengeyelan, aku punya pengalaman yang sangat nyata.
baik sebagai pelaku maupun sebagai emak :D

2 anakku, ngeyelan semua. kuanggap nurun lah dari aku :D
yang kecil lebih ganas. pengalaman eyel2anku yang pertama kali dengan si adik adalah saat dia 1,5 tahun :))

sebenernya sebagai pelaku ngeyel yang aku pengeni dari ortuku adalah diterima. bukan diterima pendapatku, tp terimalah bahwa aku ngeyelan. terimalah bahwa itu adalah hal wajar dalam usahaku mempertahankan pendapat.
dan itu adalah hal pertama yang aku lakukan pada anak2ku. menerima fakta bahwa mereka ngeyelan dan tidak langsung menyalahkan mereka dalam proses ngeyel itu.

kalo anak2 keluar ngeyelnya, biasanya aku dudukkan mereka dan aku ajak ngomong. aku bilang mauku apa dan kutanya mau mereka apa, lalu kita ambil jalan tengahnya. biasanya sih akhirnya mereka mau menerima alasanku meski sambil bersungut2 ato mewek.

eh tapi ga selalu juga aku bisa berkepala dingin dan ngajak mereka ngomong. ada masanya aku emosi dan meledak. kalo dah gini keluar otoriternya.

berikutnya yang aku pengenin dari ortuku adalah, kalo terbukti aku bener dan mereka salah, mereka mau mengakuinya.
ini juga selalu kulakukan.
kalo dalam proses eyel2an itu aku sempat meledak, maka saat aku sudah dingin, aku berusaha segera minta maaf. buatku ini penting. untuk menghargai mereka, meningkatkan pede mereka, dan sebagai pengingat untukku bahwa anak2 itu adalah individu yang berbeda yang kelak akan berdiri sendiri. mereka bukan milikku.

sebenernya materi yang dieyelkan itu pada akhirnya nggak terlalu penting kok. kalo hati sudah ketemu, mengalah adalah hal yang sangat mudah.
yang penting ya itu tadi.... pengakuan.
pengakuan bahwa ngeyel adalah hal lumrah, proses pendewasaan yang alamiah, dan pengakuan bahwa ada masanya anak benar dan ortu harus minta maaf.